April 1, 2007

Raden Ajeng Kartini

Filed under: PROFIL

Dipingit sejak usia 12 tahun untuk disiapkan menikah, tentu bukanlah hal yang menyenangkan. RA Kartini, adalah salah satu dari wanita Indonesia pada jamannya yang terpaksa menerima tradisi pingitan pada masa itu. Jejak Kartini untuk lepas dari kungkungan tradisi patriarki, perlu rasanya untuk kita selami kembali.

Lahir di Jepara pada 21 April 1879, Kartini berhadapan pada budaya yang tidak memberikan kesempatan memperoleh pendidikan dan perlakuan setara dengan laki-laki. Cita-cita Kartini untuk meraih pendidikan Sekolah Guru di negeri Belanda melalui beasiswa yang telah diperolehnya, kandas oleh larangan orangtua yang malahan menikahkan Kartini dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat.

Sejak masih gadis, Kartini telah merealisasikan keinginannya untuk memajukan pendidikan kaum wanita, dengan mendirikan sekolah cuma-cuma khusus wanita di kota kelahirannya, Jepara. Setelah menikah, Kartini juga mendirikan sekolah di Rembang. Hal tersebut menginspirasi wanita-wanita lainnya dengan mendirikan "Sekolah Kartini" di beberapa kota yaitu Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

RA Kartini wafat pada usia 25 tahun, pada tanggal 17 September 1904 ketika melahirkan putra pertamanya. Gaung perjuangan Kartini lebih menggema sepeninggalnya, di antaranya didukung oleh kumpulan surat Kartini yang dikumpulkan dalam sebuah buku dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku yang diterbitkan pada tahun 1911 tersebut memuat 87 buah surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya. Atas upaya Direktur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan: Mr JH Abendanon menerbitkan surat-surat Kartini, hingga kini citra dan cita-cita Kartini kita kenal dan kenang.

Pemikiran progresif Kartini yang tertuang dalam kumpulan suratnya, menggambarkan kebebasan berpikir Kartini yang tidak terkungkung oleh keadaan. Meskipun dalam kehidupan nyata Kartini mengalami dan menyaksikan ketidakadilan bagi kaum perempuan, dengan guratan pena Kartini terus menyuarakan semangat pembaruan bagi wanita Indonesia.

Meskipun hanya dapat meraih pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar, kecerdasan Kartini tampak melebihi wanita pada saat itu. Dengan kritis Kartini menuliskan ketertinggalan kaum wanita Indonesia dibandingkan wanita dari bangsa lain terutama dari Eropa. Wanita Indonesia belum memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk meraih pendidikan. Bahkan untuk memilih pasangan hiduppun, wanita Indonesia tidak dapat melakukannya pada saat itu.

Menurut Rob Nieuwenhuys dalam buku Oost Indische Spiegel yang diterjemahkan Dick Hartoko (1986) dia adalah seorang puteri Jawa yang lincah, sangat perasa, cerdas, berani dan sadar diri. Mungkin terlalu sadar diri, sehingga ia tak merasa bahagia dalam zaman dan kalangannya. Dalam surat Kartini kepada salah satu sahabat penanya, Stella, Kartini mengatakan “Saya dimanjakan Romo dengan buku-buku. Saat ini, membaca dan menulis merupakan segala-galanya bagi saya. Tanpa kedua kegiatan itu, saya mungkin sudah mati,” Jadi meskipun dilarang bersekolah tinggi, ayah Kartini rajin membelikan buku-buku berbahasa Belanda, yang dimanfaatkan oleh Kartini untuk memperkaya wawasan dan menjelajah dunia melalui membaca dan menulis.

Di antara buku berbahasa Belanda yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner: Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata).

Selain membaca surat kabar Semarang (De Locomotief) yang diasuh Brooshoof, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan dan majalah wanita Belanda: De Hollandsche Lelie.

Kegemaran membaca dan menulis Kartini ternyata akhirnya menjadi penyambung sejarah antar generasi wanita Indonesia pada jamannya hingga saat ini. Meskipun tidak berjuang melawan penjajahan atas kaumnya dengan mengangkat senjata, namun perjuangan Kartini sangat berarti bagi kemajuan Indonesia.

Raden Ajeng Kartini, satu dari beberapa wanita yang bergelar pahlawan Indonesia, adalah cermin sejarah gelora perjuangan wanita Indonesia di masanya. Masa kini, setiap kita adalah Kartini Indonesia, setiap kita adalah pejuang Indonesia.
 

*Oleh: Shinta Samudera (dari berbagai sumber)

Untuk mengenal RA Kartini lebih lengkap dapat menelusuri link-link berikut:  http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Adjeng_Kartini, http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/k/kartini-ra/index.shtml,

 

7 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://dwplondonmedia.blogsome.com/2007/04/01/raden-ajeng-kartini/trackback/

  1. saya sangat bahagia tentang DWP London. Semoga DWP bertinkat dan semangat selalu. Salam

    Comment by diana — June 8, 2007 @ 6:16 pm

  2. Terima kasih atas dukungan semangat nya ibu Diana.
    Semoga kita semua selalu bersemangat ya :)

    Comment by Administrator — June 9, 2007 @ 11:11 pm

  3. Dapatkah saya memperoleh info yang lebih lengkap lagi dengan tidak memperbanyak pendapat namun mamperbanyak fakta yan saya butuhkan

    Comment by agja — November 22, 2007 @ 3:32 pm

  4. di minta agar foto2 tokoh dunianya diperbanyak..

    Maju tyuzz Cia Youuu…

    Comment by sapa aja..... — November 25, 2007 @ 8:53 am

  5. THANKS A LOT FOR YOUR SPIRITS

    Comment by EVI — January 18, 2008 @ 3:14 am

  6. Smoga succes slalu

    Comment by Saiful — March 28, 2008 @ 10:38 am

  7. kodrat bukan menjadi alasan untuk perempuan bisa menjadi maju. krna kodrat perempuan hanya mengandung dan melahirkan.

    Comment by angin — April 9, 2008 @ 4:53 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>