
Kalau ada yang membuat perut terasa kenyang dan hati bahagia bila mengunjungi kantin di KBRI London, adalah tak lain karena tangan seorang lelaki yang bernama lengkap “Yohanes Sobirin” lahir di Cirebon, 14 Agustus 1958,…..Yah siapa yang tidak mengenal bapak satu anak ini. “Sobirin” begitulah seluruh staff dan karyawan KBRI London memanggilnya. Dengan gaya khas serta senyum dan bicara yang kadang sekenanya adalah ciri dari si “empunya” resep Lamb Chop dan Cumi bumbu bawang putih yang banyak digemari ini.
Yohanes Sobirin mulai masuk London pada tahun 1987 lelaki yang mempunyai banyak nama panggilan ini memulainya dengan bekerja di beberapa restaurant dan mengikuti pendidikan perhotelan di London dan juga pernah mengikuti praktek kerja di French Restaurant “ BISTRO “ selama 3 tahun, ini pula yang akhirnya menjadi titik awal suami dari ibu Nanik ini kemudian menekuni pekerjaan sebagai pemasak. Sampai kemudian Yohanes Sobirin ikut andil dalam mengelola dan mempunyai saham di beberapa restaurant tersebut. Salah satu restaurant yang dikelolanya adalah “Sate Bar” dan “South Gate” selama satu tahun. Setelah tidak lagi mengelola “Sate Bar” dan South Gate” Yohanes Sobirin kemudian melamar pekerjaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia sebagai pemasak karena kebetulan pada saat itu tidak ada pemasak di kantin KBRI London, atas jasa seseorang yang bernama Pak Pribadi lah akhirnya Pak Sobirin dapat bekerja di kantin sampai sekarang. (more…)
Pada bulan Februari 2009, Dharma Wanita Persatuan KBRI London kedatangan seorang Ibu dari Indonesia yang sudah tidak asing lagi di tanah air, yaitu Ibu Dewi Motik Pramono. Beliau bersama suaminya, Bapak Pramono Soekasno, berkunjung ke London untuk menghadiri Wisuda putranya, Adimaz Prarezeki Pramono, yang baru lulus S2 di salah satu Universitas di London.
Tidak hanya namanya saja yang sudah banyak dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga pribadi Ibu dari dua putra-putri tersebut cukup mengesankan. Pandangannya mengenai keluarga dan bagaimana membina cinta kasih di keluarga sangat menarik. Demikian pula pengalaman hidupnya dan bagaimana memandang kehidupan sungguh sangat mengesankan. Tentunya pertemuan dengan Ibu Dewi Motik Pramono ini sangat dimanfaatkan oleh para Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan KBRI London untuk berbagi pengalaman dalam melihat kehidupan, baik keluarga maupun falsafah kehidupan secara umum.
Mengenai kehidupan berumah tangga, menurut Ibu Dewi Motik yang dikarunia seorang orang putri bernama Moza Pramita Pramono dan seorang putra ini, tidak ada satu pun pasangan suami istri yang cocok dalam arti keseluruhan. Kunci keharmonisan rumah tangga menurutnya adalah kita harus berusaha mencocokan dengan pasangan kita dan bagaimana kita dapat mengerti pasangan kita.
January 11, 2009
Siapa yang tak kenal nama Obin atau nama lengkapnya Josephine W Komara. Perancang batik yang telah berkecimpung kurang lebih 36 tahun, obin telah melahirkan karya-karyanya yang dapat dibanggakan didalam dan di luar neger.
Berawal dari hobinya yang senang mengkoleksi kain - kain tua yang dulunya dibuat oleh tanggan dimulainya sejak tahun 1970an. Dan ia belajar mengenal kebudayaan jawa ketika ia pergi ke solo untuk berguru pada keluarga kraton yang diakuinya ia banyak belajar disana.
Obin walaupun ia terkenal dengan batik karyanya, ia selalu menolak dengan sebutan perancang batik. Obin lebih senang disebut dengan tukang kain karena tukang kain artinya lebih luas.
Pemilik rumah batik “ Bin House”, Josephine W Komara, lahir dari pasangan Hasmina dan Komara kini mempunyai 2.000 pembatik yang selalu menghadirkan motif-motif batik kontemporer, yang tetap berpegang teguh pada pakem- pakem yang telah ada.
Kedatangan Obin ke London bulan September 2009 lalu dalam rangka promosi budaya “Indonesian Inspired “ yang diadakan oleh Asia House London, Obin secara khusus telah memboyong koleksi pribadinya untuk dipamerkan pada acara ceramahnya mengenai busana batik Indonesia yang berjudul “From Tradition to Glamour”.
(more…)
September 1, 2008
Bulan ramadhan kembali tiba, seluruh umat muslim di berbagai belahan dunia kembali bersiap menjalankan salah satu rukun Islam, yaitu berpuasa selama bulan ramadhan. Perintah puasa difirmankan oleh Allah pada Al- Qur’an pada Surat Al- Baqarah, ayat 183. Berpuasa menahan lapar, dahaga dan dari segala hal yang dapat membatalkan puasa dari mulai matahari terbit sampai matahari terbenam.
Bertepatan dengan ramadhan kali ini, kami menampilkan sosok seorang muslimah yang kiprahnya dalam syiar Islam di Inggris, khususnya di London sangat terasa, Neng Asyari. Mbak Neng, kita biasa menyapanya. Walaupun dengan kesibukannya yang luar biasa padat, dengan senyumnya yang selalu merekah, mbak Neng dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. Berikut ini petikan pertanyaan yang kami ajukan kepada mbak Neng.
(more…)
August 1, 2008
Untuk masyarakat Indonesia yang tinggal di London atau bahkan di Inggris, tidak ada yang tidak mengenal Ibu Sri Owen. Selain dikenal sebagai tokoh masyarakat Indonesia di London, Ibu Sri Owen dikenal sebagai seorang penulis buku masakan Indonesia yang bukunya sudah banyak diterbitkan baik dalam bahasa Inggris maupun berbagai bahasa lainnya. Ibu Sri Owen juga dikenal sangat aktif memberikan pengajaran mengenai masakan Indonesia maupun memberikan demonstrasi memasak masakan Indonesia di depan masyarakat Inggris maupun asing lainnya. Untuk pembaca yang belum mengenal sosok Ibu Sri Owen, kami yakin anda tertarik dan ingin mengenal lebih jauh mengenai beliau yang sangat ahli dalam bidang masakan atau kuliner, khususnya masakan Indonesia.
Ditemui di rumahnya di daerah Wimbledon, Inggris, Ibu Sri Owen menceritakan latar belakangnya dan mengapa ia sampai tinggal di Inggris. Dilahirkan di Padang Panjang 73 tahun yang lalu, ayah beliau berasal dari Sumatra Barat dan ibu berasal dari Kuningan Jawa Barat. Pada masa anak-anak ketika masih tinggal di Sumatra Barat, ia sangat senang melihat neneknya memasak di dapurnya yang sangat luas. Walaupun nenek beliau sebagai pemilik kebun kopi dan ladang padi dikenal cukup berada di jamannya, namun ia sangat senang memasak dan makan. Mengikuti jejak Ayah beliau yang sangat gemar memasak dan sangat ahli dalam membuat masakan. Kehidupan beliau di Sumatra Barat tidak berlangsung lama, kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Jawa pada saat itu Indonesia berada dalam pendudukan Jepang dan mereka menganggap Jawa lebih aman. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas, beliau melanjutkan sekolah di Universitas Gajah Mada, jurusan Bahasa Inggris. Beliau memutuskan mengambil jurusan Bahasa Inggris karena bercita-cita ingin melanjutkan sekolah dan jalan-jalan ke luar negeri. (more…)
April 1, 2008
Seluruh tubuhnya menyatu dengan dinamika gerakan tari yang dipentaskannya. Suaranya lantang menerangkan setiap gerakan dasar tari Bali yang diikuti oleh peserta workshop dengan antusias. Gerakan-gerakan dasar Tari Bali yang cukup sulit perlahan dapat ditiru oleh peserta yang semuanya orang asing.
Diundang ke sekolah dasar sampai universitas di United Kingdom untuk memberikan workshop Tari Bali hanya salah satu dari banyak aktifitas Ni Made Pujawati Hobart yang berdomisili di London sejak November 1999. Puja begitu panggilan akrabnya menyelesaikan sekolah formalnya di Sekolah Tinggi Seni Tari Indonesia Denpasar-Bali. Wanita Bali yang lahir di Banjar Pejeng Aji, Gianyar ini, sarat dengan pengalaman menari di mancanegara.
Memulai perjalanannya di London 9 tahun yang lalu, Puja bertemu dengan grup gamelan Bali ‘Lila Cita’ yang terdiri dari orang Inggris. Interaksi yang kuat dengan School of Oriental and African Studies (SOAS) tempat suami Puja bekerja, mempertemukannya dengan mahasiswa-mahasiswa yang sangat antusias ingin belajar tari Bali. Kelas tari Bali di SOAS tidak dapat bertahan lama dikarenakan sulitnya mendapat ruangan cukup besar. Sebagai jalan keluar Puja membuka kelas private di kediamannya di daerah Hampstead. Muridnya yang terdiri dari berbagai bangsa ini sebelumnya sudah mengenal Bali dari berbagai sumber. Mereka berasal dari Inggris, Amerika, Kepulauan Bahama, Jepang, Italia, Afrika, Jerman, India, Singapura, Malaysia dan Bali sendiri yang berusia antara 5-49 tahun. (more…)
February 1, 2008
Sosok Dara Arief yang selalu dirasakan sebagai penyemangat Tim Buletin dan telah menyumbangkan idenya yang kreatif selama hampir 2 tahun untuk buletin Dharma Wanita Persatuan KBRI London, pada tanggal 27 Desember 2007 kemarin telah kembali ke tanah air. Rasa kehilangan Mbak Dara ini terasa sekali bagi tim buletin yang masih tinggal di London. Namun, di tengah kesibukan beliau mengurus anak dan suami di Indonesia, beradaptasi kembali dengan lingkungan baru di Indonesia, Mbak Dara masih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tim buletin tentang dirinya.
Dara Trifitri nama lengkapnya, namun karena menikah dengan bekas pacar yang bernama Arief ditambah tuntutan harus punya family name supaya memudahkan segala urusan, maka akhirnya ia memasang Dara Arief sebagai namanya.
Usia? “Rahasia dong” katanya dengan gayanya yang selalu manis, “karena sudah tua kok prestasinya cuma segini” katanya merendah. “Tapi bisa dihitung deh”, lanjutnya.
December 1, 2007
Serat Centhini, naskah klasik kumpulan tulisan para pujangga diketuai oleh Sunan Pakubuno V (pada saat itu masih menjadi Putra Mahkota), menceritakan kehidupan orang Jawa secara menyeluruh. Terdorong untuk mengetahui lebih jauh mengenai karya sastra penting tersebut, Kestity Adyandini Pringgoharjono, profil wanita kita kali ini, melakukan riset dan menuangkannya kembali dalam buku “The Centhini Story, the Javanese Journey of Life”. Pada siang yang cerah itu, di antara kesibukannya mengurus kepindahannya beserta keluarga ke Korea, Ibu Kesty bersedia ditemui di rumahnya yang asri untuk diwawancarai.
MENDALAMI SENI DAN BUDAYA
Berlatar belakang pendidikan di bidang keuangan (Master of Applied Finance dari salah satu universitas di Sydney Australia) dan sempat bekerja di beberapa bank asing ternama di Jakarta sekaligus mengajar mata kuliah Manajemen Lembaga Keuangan di almamaternya FE UI. Seperti merasa terpanggil untuk merubah haluan kariernya (more…)
November 1, 2007
‘Jangan sebut saya ulama, saya lebih senang jika dipanggil intelektual muda Islam’, demikian ujar Dr. Faisar Ananda Arfa, ustad yang diundang oleh KBRI London untuk mengisi kegiatan agama selama Ramadhan 2007. Kesan yang kami tangkap selama mendengar dakwah beliau adalah cara pandang baru yang rasional terhadap berbagai masalah yang kadang terasa berlawanan dengan penafsiran yang selama ini tertanam di kepala kami.
Beliau menempuh pendidikan dasar dan menengah di dua sekolah, yaitu sekolah umum dan madrasah, sehingga ‘saya memiliki enam buah ijazah’, candanya. Semenjak belia, beliau sudah menunjukkan ketertarikan pada agama dan berkeinginan untuk menjadi ulama. Beruntung ibunda beliau memberikan dorongan untuk cita-citanya ini, walaupun sejak dahulu ada anggapan bahwa pekerjaan pendakwah tidak dapat menopang hidup. (more…)
October 1, 2007
Terkait datangnya bulan suci ramadhan, Buletin Online DWP KBRI London berencana menampilkan profil seseorang yang kiprahnya dalam syiar agama Islam sangat penting. Jika tahun lalu kami menampilkan sosok ustadz Lutfi yang mengisi kegiatan umat Islam Indonesia di London, maka Ramadhan tahun ini kami ingin menampilkan Bapak Djamalullail (selanjutnya akan disebut sebagai Pak Djamal). Beliau adalah sosok penting yang berperan besar dalam menggerakkan kegiatan keagamaan Islam di lingkungan KBRI khususnya, dan di London pada umumnya.
1. Bagaimana latar belakang Pak Djamal sehingga sampai saat ini menetap di London?
Saya datang ke Inggris tanggal 1 Mei 1990 dengan niat untuk belajar bahasa dan apabila memungkinkan untuk melanjutkan studi S2. Yang mengajak saya ke Inggris adalah Tante saya (adik dari Ibu) yang bersuamikan orang Inggris dan memang sudah menetap lama disini. (more…)